Panduan WHO untuk Pemakaman Pasien Virus Corona (COVID19) yang Telah Tiada

Pandemi Virus Corona (COVID-19) belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Segala cara dan upaya dilakukan, baik oleh masyarakat, pemerintah daerah, Pemerintah Pusat, hingga badan khusus PBB, yaitu WHO. Semua bahu membahu untuk berjuang agar bisa segera menyudahi pandemic virus corona ini.

Saat ini, korban Positif virus corona di Indonesia telah mencapai angka 32.033 (08/06/2020), dengan 1.883 korban meninggal. Ribuan jiwa tentu saja bukan jumlah yang sedikit.

Permasalah muncul ketika pasien virus corona (COVID-19) meninggal dunia. Banyak warga yang menolak jenazah untuk dimakamkan di pemakaman umum setempat karena berbagai alasan, terutama takut jenazah masih bisa menularkan virus corona kepada masyarakat sekitar.

Masih banyak orang khawatir akan penyakit yang menular setelah kematian dan kemungkinan akan tertular virus dari jenazah yang terinfeksi virus corona tersebut. Padahal, menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), selama langkah-langkah pemulasaraan dilakukan dengan baik, tidak ada alasan untuk takut virus corona (COVID-19) akan menyebar melalui jenazah pasien. Meskipun sebenarnya virus ini bisa bertahan selama beberapa hari setelah pasien dimakamkan.

Adu Krow, Juru bicara PAHO dan WHO mengungkapkan bahwa hingga kini tidak ada bukti bahwa jenazah bisa mentransmisikan virus kepada orang yang masih hidup.

Cara Perawatan Jenazah Menurut WHO

WHO menghimbau agar dalam pengurusan atau perawatan jenazah pasien virus corona dilakukan oleh orang-orang yang telah terlatih. Bagi kerabat atau keluarga yang sangat mencintai korban tetap dihimbau agar tetap patuh dalam menjaga jarak sosial. Keluarga dan kerabat korban dilarang mencium atau memeluk jenazah, dan pastikan mencuci tangan dengan air bersih setelah melihat jenazah.

WHO juga tetap mengizinkan keluarga dan teman dari orang yang meninggal untuk melihat jenazah yang terakhir kalinya sebelum dimakamkan, asalkan memperhatikan beberapa ketentuan pembatasan.

Cara Pemakaman Jenazah

Di sejumlah negara, pengiring atau pelayat pemakaman telah dilarang. Sedangkan di beberapa negara lain masih memperbolehkannya dengan jumlah pelayat yang dibatasi. Selain itu, beberapa negara memutuskan untuk mengkremasi jenazah virus corona.

Namun, WHO mengatakan, baik penguburan maupun kremasi diperbolehkan dengan memperhatikan tradisi, budaya, dan kepercayaan yang dianut.

Namun, bagi jenazah yang dikuburkan, WHO menghimbau beberapa hal sebagai berikut:
● Tidak perlu terburu-buru memakamkan jenazah pasien virus corona dan juga tidak perlu membakar barang-barang jenazah.
● Barang-barang yang akan dibakar harus didesinfeksi secara menyeluruh dengan deterjen, larutan etanol 70%, atau larutan pemutih.
● Bagi petugas yang menangani pemakaman jenazah, baik yang dikubur maupun dikremasi, sebaiknya mengenakan sarung tangan kemudian mencuci tangan baik sebelum atau sesudahnya.
● Orang-orang dengan gejala penyakit pernapasan tidak boleh menghadiri pemakaman.
● Tempat pemakaman usahakan berjarak minimal 30 meter dari pemukiman dan sumber air bersih.
● Usahakan air dari tempat pemakaman tidak mengalir ke jalan atau pemukiman ketika terjadi hujan.
● Dasar Liang lahat setidaknya 1,5 meter
● Kendaraan dan alat yang digunakan untuk membawa jenazah ke tempat pemakaman harus disterilkan dengan cairan desinfektan.

Kenyataan pahit akan kematian karena virus corona (COVID-19) seharusnya tidak menghalangi masyarakat untuk memberikan pemakaman bermartabat bagi yang meninggal. WHO menghimbau agar setiap masyarakat harus peduli dengan memberikan ruang bagi orang yang sedang berduka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang dicintainya.

WHO juga meminta kepada Pihak berwenang di setiap negara agar bisa mengelola setiap situasi berdasarkan kasus per kasus, menyeimbangkan hak keluarga, kebutuhan untuk menyelidiki penyebab kematian, dan risiko terhadap infeksi.

Leave a Comment