Berbagai Kisah Kemanusiaan Yang Mengharukan dalam Pemakaman Jenazah Korban Virus Corona

Virus Corona sudah menghilangkan lebih dari 428.236 nyawa di dunia per tanggal 12 Juni 2020 ini. Beberapa keluarga yang ditinggalkan mendiang dilarang untuk melakukan prosesi pemakaman orang dicintai dengan tujuan keamanan dan agar tidak tertular virus corona (COVID-19). Bahkan, untuk merawat jenazah dan mengiringi jenazah ke tempat pemakaman juga harus sangat dibatasi.

Namun, dibalik kisah duka yang tidak biasa ini, ternyata menyimpan kisah sendiri bagi beberapa orang yang secara suka rela berkorban untuk menghentikan pandemi virus corona (COVID-19). Mereka adalah orang-orang yang secara sukarela melakukan pemakaman bagi para pasien virus corona yang meninggal dunia.

Ada kisah haru yang dialami satu sama lain. Berikut ini, beberapa kisah kemanusiaan yang mengharukan dalam pemakaman jenazah korban virus corona.

Endro Sambodo dan Kawan-Kawan

Endro Sambodo adalah salah satu anggota TRC BPBD DIY, turut menguburkan sebagian jenazah korban virus corona (COVID-19). Pria asal Sleman ini telah enam tahun bekerja di BPBD DIY, namun tugas kali ini menjadi pengalaman pertamanya bersama rekan-rekannya dalam mengebumikan jenazah. Meskipun merasa was-was sempat dirasakan Endro, memberanikan diri untuk terjun dalam penguburan jenazah COVID-19.

Endro dan rekan-rekannya secara umum belum mengerti sama sekali literatur pemakaman untuk jenazah virus corona, namun karena pertimbangan kemanusiaan, Endro memantapkan diri untuk melakukannya.

Hendra Boim

Hendra Boim terpanggil menjadi relawan tim pemakaman pasien Covid-19 di wilayah Karawang, Jawa Barat. Hendra mengalahkan rasa was-was demi kemanusiaan. Hendra tidak memungkiri rasa takut saat pertama kali bergabung dalam tim pemakaman jenazah pasien Corona.

Meskipun sebelumnya pernah menjadi relawan saat tsunami Aceh tahun 2004/2005 silam, Hendra mengaku rasa was-was saat ini jauh lebih tinggi, apalagi keluarganya juga ikut merasakan hal yang sama, bahkan meminta Hendra untuk tidak melakukannya.

Rasa khawatir lebih tinggi lagi ketika Hendra harus terjun menangani jenazah virus corona dengan Alat Pelindung Diri (APD) masih minim. Namun, Hendra tetap ikhlas dan berusaha memberikan pengertian kepada keluarganya. Saat pulang ke rumah, Hendra pun langsung bersih-bersih diri dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 sebelum berkumpul dengan keluarga.

Beni Subakti

Salah seorang petugas penggali dari UPT3 TPU Cikadut, Beni Subakti sangat menyayangkan di beberapa daerah di Indonesia terjadi penolakan terhadap jenazah virus corona. Menurutnya pandemi wabah ini justru harus disikapi dengan sisi kemanusiaan yang tinggi sebagai salah satu musibah. Beni Subakti tidak pernah menolak tugasnya untuk menggali liang lahad dan memakamkan jenazah virus corona.

Beni menuturkan bahwa pemilihan lokasi pemakaman untuk jenazah terjangkit virus corona (COVID-19) ini sudah melalui perhitungan yang matang.

Menurutnya, daripada menolak pemakaman jenazah, masyarakat justru harus saling membantu memutus mata rantai penyebaran virus corona (COVID- 19) agar tidak lagi memakan korban jiwa. Beni mengutarakan bahwa awalnya selalu dihantui rasa takut saat memakamkan jenazah yang terjangkit virus corona.

Namun berbekal pengetahuan dan persiapan yang cukup, secara perlahan Beni mulai terbiasa. Terlebih lagi selama menjadi petugas penggali dan ikut memakamkan jenazah terinfeksi virus corona (COVID-19) Beni juga sudah dua kali mengikuti rapid test. Dia bersyukur karena hasil kedua tes tersebut negatif. Padahal Beni bersinggungan secara langsung dengan jenazah positif virus corona.

Subhan

Sama halnya yang dialami oleh Beni Subakti, Subhan yang sehari-hari bekerja sebagai penggali kubur di Kota Pekanbaru, Riau merasakan hal yang sama. Semenjak COVID-19 mulai merebak di provinsi Riau, Subhan yang sudah bekerja sejak 1996 ditunjuk menjadi koordinator penggali kuburan di TPU Tengku Mahmud Palas. Subhan juga selalu terlibat dengan memakamkan jenazah COVID-19 di TPU Tengku Mahmud Palas.

Tidak seperti pemakaman yang berada di pinggir jalan beraspal, jalan menuju pemakaman tempat Subhan bekerja adalah jalan tanah yang susah dilalui kendaraan saat hujan turun.

Subhan mengatakan awal mula Ia memakamkan jenazah dengan keharusan menerapkan protokol COVID-19 semuanya terasa sangat mendadak. Subhan dan teman-temannya tidak memiliki kesiapan yang cukup untuk segala hal yang dibutuhkan.

Tiba-tiba Subhan dihubungi untuk menyiapkan lahan pemakaman khusus Corona untuk pertama kalinya. Dia belum ada persiapan sama sekali, namun dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, Subhan dan rekan-rekannya bisa segera menyiapkannya dan tetap aktif melayani pemakaman korban virus corona hingga saat ini.

Sumber foto : www.kompas.com

Leave a Comment